Senin, 22 Januari 2018


                                       Sumur Jeruh

          Pada zaman dahulu, di saat manusia belum mengenal pendidikan dan peradaban, secara umum masyarakat belum bisa membaca dan menulis, bahkan agama pun mereka juga belum memahami secara benar. Aktivitas sehari-hari penduduk stemmpat aalah ke sawah dan kehutan untuk mencari kayu bakar, begitulah kehidupan mereka sehari-hari secara terus menerus tanpa adanya perubahan.
            Pada suatu ketika, di saat zaman kerajaan ada seorang raja yang mampir di tempat itu. Secara spontan masyarakat bingung karena tidak pernah kedatangan seorang raja yang singgah di tengah kampung yang kurang mampu sehingga tidak ada makanan untuk disuguhkan kepada raja itu, semua anggota keluarga kebingungan untuk mencari suguhan kepada sang raja tersebut. Akhirnya salah satu keluarga memerintahkan agar mencari kerumah tetangga itu. Namun hasilnya nihil, maka pada saat itu muncul ide cerdas tokoh masyarakat yang kemudian disepakati oleh rakyat agar segera diadakan sumbangan (DURUNAN istilah orang Madura) kemudian raja menanyakan nama wilayah yang disinggahinya itu, namun sayangnya tak seorangpun mengetahui nama tentang wilayah itu. Akhirnya sang raja memberi nama wilayah itu DURUNAN yang artinya sumbangan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun yang pada akhirnya situasi berganti pula, maka DURUNAN berganti DURUNGAN. Namun nama itu belum juga baku pada masa penjajahan jepang di depan kalimat itu ditambah PA yang pada akhirnya menjadi desa PADURUNGAN.
            Di Desa Padurungan ini terdapat dua sumur ajaib, dikatakan ajaib karena sumur tersebut tidak melalui proses penggalian layaknya sumur yang lain, akan tetapi sumur tersebut ada dengan sendirinya, artinya betul-betul pemberian Allah dan murni tanpa adanya campur tangan manusia. Sumur yang pertama yaitu sumur kelampok, sumur tersebut di temukan warga karena pada waktu itu ada orang kaya yang bernama H. Mattisan beliau meiliki 2 ekor kerbau yang setiap harinya digembala di sawah, dan setiap hari kerbau tersebut keluar dari semak-semak. Warga merasa curiga kemudian semak-semak tersebut di selediki, ternyata ada sumur yang airnya meluap sampai di permukaan tanah, kira-kira sumur tersebut sedalam 15 M. Setelah itu warga mengadakan kerja bakti untuk membersihkan semak-semak itu, dan secara kebetulan di pinggir sumur tersebut terdapat pohon kelampok yang pada akhirnya sumur itu di beri nama SUMUR KELAMPOK. Kedua yaitu SUMUR JERUH sumur tersebut ada di tengah sawah di sebelah selatan desa Padurungan tepatnya di kampong bara'alah sumur tersebut juga ada tanpa campur tangan manusia.

Post a Comment: